Programmer Harus Tahu: Software Development Lifecycle (SDLC)

1 min read

SDLC adalah singkatan dari Software Development Life Cycle, yang kurang lebih berarti siklus hidup pengembangan perangkat lunak. Pengembang web yang berkecimpung di dunia web/web system development dan aplikasi mobile seharusnya sudah memahami SDLC ini karena berkaitan erat dengan pekerjaan mereka sehari-hari.

Setiap perusahaan pengembangan perangkat lunak umumnya akan menggunakan SDLC

saat mengerjakan proyek mereka. SDLC seperti prinsip umum. Dengan mengimplementasikan SDLC, pengembangan perangkat lunak dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien.

Seperti namanya, SDLC adalah sebuah siklus, jadi langkah-langkah di atas harus dilakukan satu per satu. Menerapkan SDLC dalam pengembangan proyek akan memudahkan tim untuk menciptakan sistem berkualitas tinggi yang memenuhi harapan pelanggan.
Level di SDLC

Dalam SDLC setidaknya ada enam level yang harus diketahui, yaitu:

  1. Perencanaan (planning)

Fase perencanaan merupakan fase fundamental dalam SDLC. Biasanya tahap perencanaan dilakukan oleh programmer berpengalaman. Saat merencanakan proyek, tim akan memasukkan masukan dari pelanggan, penjualan, studi pasar dan, jika perlu, masukan dari para ahli.

Informasi yang dikumpulkan kemudian digunakan untuk merencanakan pendekatan dasar untuk melakukan uji tuntas di bidang ekonomi, operasional dan teknis.

  1. Tentukan persyaratan

Pada tahap ini, tim harus memiliki penilaian kebutuhan yang terdokumentasi dengan baik. Kemudian tim perlu mendapatkan persetujuan pelanggan. Dokumen dalam fase ini disebut SRS (Spesifikasi Kebutuhan Perangkat Lunak) yang berisi semua persyaratan produk / proyek yang akan dirancang dan dikembangkan selama siklus.

  1. Desain (desain)

Dokumen SRS adalah referensi tertulis bagi tim arsitektur proyek

untuk membantu menciptakan desain terbaik untuk proyek yang sedang dikembangkan. Dari dokumen SRS, tim membuat DDS (Design Document Specification) yang berisi pendekatan desain untuk arsitektur produk/proyek.

DDS ditinjau oleh semua pihak yang berkepentingan berdasarkan parameter seperti penilaian risiko, umur simpan produk, modularitas, anggaran dan waktu tunggu, serta desain terbaik yang dipilih.

  1. Pengembangan

Pada fase ini pembangunan atau pengerjaan proyek dimulai. Pengkodean didasarkan pada DDS. Desain yang detail dan terorganisir dengan baik mempercepat proses pengkodean.

Pemrogram harus mengikuti pedoman pengkodean yang ditetapkan oleh perusahaan serta alat yang digunakan dalam proyek seperti kompiler, juru bahasa, debugger, dll. Tahap pengembangan dapat memakan waktu lama, terutama ketika hambatan yang tidak diinginkan muncul.

  1. Pengujian dan integrasi (pengujian dan integrasi)

Setelah tahap pengembangan selesai, saatnya sistem memasuki tahap pengujian. Sistem harus diuji sebelum siap digunakan oleh pelanggan. Pengujian atau testing berguna untuk mengetahui apakah sistem bekerja secara optimal, apakah terdapat kesalahan atau ada hal lain yang hilang.

Selama fase ini, berbagai hal diuji, seperti kualitas kode, tes fungsional, tes integrasi, tes kinerja, dan tes keamanan.

  1. Penyediaan dan pemeliharaan (maintenance)

Setelah tahap pengujian selesai dan dipastikan tidak ada hambatan, langkah selanjutnya adalah penerapan dan pemeliharaan. Pada tahap ini produk siap diluncurkan atau pelanggan. Pemeliharaan juga dilakukan pada fase ini.

Level-level dalam SDLC di atas hanyalah garis besar. Dalam prakteknya, mungkin ada yang menerapkan SDLC hingga 7 atau bahkan 11 level, itu tergantung pada masing-masing perusahaan.

Namun yang pasti, SDLC selalu digunakan dalam proses pengembangan produk/proyek karena keunggulannya yang besar. Sudahkah Anda menerapkan SDLC di perusahaan Anda?

Lihat Juga :

https://ruaitv.co.id/
https://cmaindonesia.id/
https://rakyatjakarta.id/
https://gramatic.id/
https://tementravel.id/
https://psyline.id/
https://cinemags.id/
https://imn.co.id/
https://bernas.co.id/
https://mt27.co.id/

Rate this post